Kenapa Generasi Z Cenderung Burnout? Ini 3 Faktornya!
Halo, sobat Netizen!
Kata “burnout” makin sering terdengar, apalagi di kalangan Gen Z. Mungkin kamu juga pernah ngerasa capek banget, padahal kerjaan atau tugas sekolah belum seberapa. Tenang, kamu nggak sendirian.
Burnout itu nyata — dan sayangnya, makin banyak anak muda yang ngalamin. Tapi kenapa sih Gen Z justru jadi generasi yang paling rentan?
- Tuntutan Sukses Sejak Dini
Gen Z tumbuh di era yang serba cepat dan penuh pencapaian instan.
Media sosial bikin kita merasa harus sukses sebelum umur 25: punya bisnis sendiri, kuliah di luar negeri, atau kerja di startup terkenal. Setiap scroll berasa kayak reminder, “Kamu belum cukup hebat.”
Akhirnya, banyak yang jadi terlalu keras sama diri sendiri. Padahal, setiap orang punya timeline hidup yang berbeda. Tekanan ini, tanpa sadar, bisa nguras energi dan bikin kita terus-terusan merasa lelah — secara fisik maupun mental.
- Batas antara ‘Kerja’ dan ‘Istirahat’ Makin Tipis
Teknologi bikin semuanya lebih fleksibel, tapi justru itu jebakan.
Kapan pun ada notifikasi, langsung buka. Mau istirahat, eh malah scroll TikTok sampai lewat tengah malam — padahal niatnya cuma “healing sebentar.”
Akhirnya, otak nggak pernah benar-benar berhenti. Kita terus siaga, terus mikir, terus online. Nggak heran kalau bangun tidur pun rasanya udah capek duluan.
- Minimnya Ruang Aman untuk Emosi
Gen Z sadar pentingnya mental health. Tapi sayangnya, nggak semua punya tempat aman buat cerita.
Ada yang takut dianggap “lemah” atau “drama.” Ada juga yang merasa sendiri walaupun ramai.
Padahal, punya support system — teman, keluarga, guru, mentor — itu krusial. Bukan buat cari solusi, tapi sekadar buat didengar. Dan itu bisa menyelamatkan.
Terus, Gimana Solusinya?
Nggak ada rumus ajaib. Tapi kamu bisa mulai dari hal sederhana:
- Kenali batas energi diri sendiri.
- Belajar bilang “nggak” tanpa rasa bersalah.
- Ciptakan waktu istirahat yang benar-benar off.
- Cari atau bentuk ruang aman untuk ngobrol.
Gen Z itu kreatif, adaptif, dan semangatnya besar. Tapi jangan lupa: mesin aja bisa panas kalau dipaksa terus — apalagi manusia.
Jadi, yuk rawat diri. Sukses itu penting, tapi sehat jiwa raga juga nggak kalah penting.
Kalau kamu punya cara sendiri buat ngurangin burnout, share dong di kolom komentar!
Siapa tahu, bisa bantu orang lain juga yang lagi merasa sendirian.
👤 Ditulis oleh: Aqeela Fazle Mawla Ramadhan & Husna Shafiya
🖼️ Thumbnail diambil dari: vectorjuice on Freepik
Share this content:
Post Comment