×

Fenomena ‘Quarter-Life Crisis’ di Usia 18–25: Apa dan Gimana Ngalaminya?

Halo, sobat Netizen!

Pernah nggak sih, ngerasa kayaknya semua orang udah tau arah hidupnya… sementara kamu? Bingung.

Diem-diem nyari jawaban di kepala sendiri, tapi makin dicari, makin kerasa jauh.

Kalau iya, bisa jadi kamu lagi ngalamin yang namanya Quarter-Life Crisis.

Apa Itu Quarter-Life Crisis?

Secara sederhana, Quarter-Life Crisis adalah fase krisis identitas yang sering dialami oleh orang di usia 18–30 tahun, khususnya awal 20-an.

Ini bukan kondisi aneh, apalagi tanda kamu lemah. Justru sebaliknya — ini sangat umum. Karena fase hidup ini emang penuh dengan transisi besar dan tekanan dari berbagai arah.

Beberapa pemicu yang umum antara lain:

  • Perbandingan sosial, apalagi kalau sering lihat teman terlihat “lebih sukses” di media sosial.
  • Ketidakpastian karier dan masa depan.
  • Tekanan dari orang tua, lingkungan, atau ekspektasi diri sendiri.
  • Pertanyaan besar yang sering muncul: “Aku sebenarnya siapa? Mau ke mana?”

Gimana Rasanya?

Setiap orang punya pengalaman yang beda, tapi ini beberapa tanda yang sering muncul:

  • Merasa stuck dan bingung harus mulai dari mana.
  • Overthinking soal masa depan dan keputusan hidup.
  • Merasa tertinggal dari teman-teman sebaya.
  • Insecure dan mulai meragukan kemampuan diri.
  • Bingung: mau ikutin passion atau realistis soal keuangan?
  • Merasa capek secara mental, padahal secara fisik nggak ngapa-ngapain.

Kadang, semua ini muncul diam-diam. Di luar kelihatan biasa aja, tapi di dalam… rame banget.

Kenapa Ini Bisa Terjadi?

Karena di usia 20-an, hidup terasa seperti jalan cepat. Banyak hal dimulai, tapi juga banyak tekanan.

Misalnya:

  • Pilihan hidup besar mulai muncul: kuliah, kerja, nikah, karier jangka panjang.
  • Otak kita masih berkembang — prefrontal cortex, bagian yang ngatur logika dan keputusan, baru matang di usia sekitar 25 tahun.
  • Kita mulai lepas dari kontrol orang tua, tapi belum sepenuhnya siap ambil alih semuanya.

Bayangin aja: kamu baru belajar jalan, tapi udah diminta sprint maraton.

Gimana Cara Menghadapinya?

Tenang. Quarter-Life Crisis bukan akhir segalanya. Justru ini bisa jadi titik balik buat refleksi diri.

Beberapa hal yang bisa bantu kamu melalui fase ini:

  1. Jujur Sama Diri Sendiri

Nggak apa-apa kok merasa lelah, bingung, atau takut. Semua itu valid. Nggak ada keharusan untuk selalu tahu jawaban.

  1. Kurangi Banding-Bandingin Diri

Yang kamu lihat di medsos cuma highlight, bukan realita lengkap. Fokus ke langkah kecilmu sendiri, sekecil apa pun itu.

  1. Cari Ruang Aman Buat Cerita

Bisa ke sahabat, guru BK, mentor, atau tenaga profesional. Kadang, kita cuma butuh tempat buat didengar.

  1. Tulis Pikiran dan Perasaanmu

Coba journaling. Bantu banget buat membereskan isi kepala yang semrawut.

  1. Ambil Waktu, Nggak Harus Cepat

Nggak ada patokan kamu harus “sukses” di umur 23. Hidup itu bukan lomba siapa cepat dia menang.

Kamu Nggak Sendirian

Kalau kamu pernah ngerasa bingung, cemas, takut gagal, atau lelah sama ekspektasi — kamu nggak sendiri.

Quarter-Life Crisis bukan tanda kamu gagal. Tapi tanda kamu sedang bertumbuh. Sedang memikirkan hidup dengan lebih sadar. Dan itu… luar biasa.

Kalau kamu lagi ngalamin fase ini — atau punya orang terdekat yang mengalaminya — pelan-pelan aja, bro. Nggak harus buru-buru baik-baik aja.


Kalau kamu punya cara sendiri buat ngurangin burnout, share dong di kolom komentar!
Siapa tahu, bisa bantu orang lain juga yang lagi merasa sendirian.

👤 Ditulis oleh: Aqeela Fazle Mawla Ramadhan & Husna Shafiya
🖼️ Thumbnail diambil dari: Freepik on Freepik

Share this content:

Post Comment